(draft cerpen)
Akhirnya.. titik itupun jelas..
Apapun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya,
Cinta kan tetap berada disana, menunggumu mengakui keberadaannya.
Bagi kita, senja selalu saja sempurna,
bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya?
Seperti kisahmu, dia, juga kisahku.
Tak ada bagian yang perlu kita ubah sekarang.
aku mengerti .
Tak ada sela yang harus kita isi lagi
Bukankah takdir kita sudah jelas ?
Lalu, saat sebelum ini semua kau berkata, "aku mencintaimu"
Mengertikah kau apa artinya ??
--- Kita tak kan berada di satu cerita yang sama, seperti senja yang tak sewarna---
Lima detik. Aku seakan terhipnotis. Mataku terbelalak kaget.
Detik yang terasa hambar. membuat ku terhanyut.
Detik yang mengiringi sebuah kalimat dalam pembicaraan kami, di Rabu yang syahdu.
Beriring gerimis yang mengurai perlahan.
Aku tergugu .
Tak mampu bergerak. Statis.
Detik-detik kelabu di penghujung telpon 23 menit 16 detik itu.
Inilah akhir kisah itu.
Yang terangkai indah beberapa bulan berlalu.
Hatiku kebas.
Seketika .
Ada sesuatu yang berontak dihati ini.
Aku tidak bisa menjelaskan kata yang tepat untuk mendeskipsikan rasa yang berkecamuk dihati sekarang..



