29 Maret 2011

Palestine Membekas :^

Betapa berdosanya aku, ketika aku selalu mengeluh akan hal-hal yang tak ku sukai. Betapa berdosanya aku, ketika aku selalu merasa sumpek dengan keadaanku yang penuh dengan kenikmatan ini. Betapa berdosanya aku, ketika aku membuka mulutku lebar-lebar karena hal yang menyenangkan hatiku. Betapa berdosanya aku, ketika segala fasilitasnya istimewa ini, kugunakan untuk berrmaksiat kepada Allah. Betapa berdosanya aku, ketika makanan yang amat nikmat dengan nafsu makan yang menggelora ini kubiarkan habis sia-sia tanpapernah ada rasa syukur yan terucap. Betapa berdosanya aku, ketika orang tua yang amat menyayangiku, kubiarkan luka dihatinya dengan bentakan dan kedurhakaanku. Betapa berdosanya aku, ketika teman tersakiti karena kasarnya perlakuanku.
Sungguh……………….     Aku termasuk diantara mereka yang berdosa………
Sementara disana, jauh di negeri Palestina, jauh disana ada pula kota Gaza. Disana adikku sedang menangis, ibuku sedang merintih, ayahku sedang menahan pedih, dan kakakku sedang bersedih. Merekalah yang pantas untuk mengeluh akan kejamnya keadaan. Merekalah yang patut untuk merasa sumpek karena rusaknya roda kehidupan. Merekalah yang pantas untuk bersedih, merintih, dan menangis.


Bukan kita….. bukan kita yang pantas mengeluh kepada tuhan, bukan kita yang pantas merasa sumpek dengan keadaan kita, bukan kita yang pantas untuk bersedih, merintih, dan menangis atas keadaan kita. Dan bukan kita yang patut untuk merasa stres atas kejamnya dunia.

Sungguh…. Demi Allah…. Kita adalah pemuda-pemuda bermental kambing yang selalu mengeluh akan buruknya keadaan. Kita adalah pemuda berpemikiran primitif yang tak tau terima kasih. Kita adalah seburuk-buruk hamba yang tak pernah berterima kasih terhadap majikannya yang Maha Baik. Sungguh kita adalah pemuda tak bermoral yang selalu mengaharap menjadi putra raja untuk beroleh kebahagiaan.
Tapi…… sungguh mental baja yang ada didalam dada mereka. Yel-yel husaini yang selalu mereka lantunkan. Kesyahidan ada dalam hati mereka. Kematian di mata mereka adalah keindahan. Dan mereka butuh kita untuk hidup layaknya manusia.

Lalu kenapa? Lalu kenapa kita diam? Apakah dalam hati kita sudah tidak ada naluri kemanusiaan? Apakah kita akan terus mngurusi urusan kita yang amat sepele? Apakah kita belum cukup marah, ketika mendengar saudara kita dibantai, dihina, diboykot dan dilecehkan?
Sudah cukup…. Cukup sudah kita hidup dalam kehidupan yang amat tak bernilai. Bangkitkan nilai kehidupan kita dengan membakar kembali naluri-nalui kemanusiaan. Hidupkan kembali ruh-ruh jihad yang selama ini terkubur. Apa yang bisa kita lakukan????????????
Lakukan apa yang kita bisa….. Semua ada nilainya….. Jadikan keluarga kita tenteram kembali dengan minggatnya para penjajah dari bumi palestina.

Sudah cukup ibu-ibu kita diperkosa….. Sudah cukup ayah-ayah kita dibantai….. Sudah cukup adik-adik kita disiksa….. Sudah cukup kakak-kakak kita dihinakan……..
Memang kita adalah anak yang tak tau berbudi yang membiarkan ibu kita diperlakukan tak pantas oleh mereka, memang kita adalah anak yang durhaka yang tak pernah marah ketika ayah mereka dibantai, memang kita adalah kakak-kakak yang bermental banci yang tak pernah berontak ketika adiknya disiksa, memang kita adalah adik-adik yang bermental pengecut yang tak pernah marah ketika kakaknya dihinakan. Kita belum menjadi seorang manusia yang mempunyai sifat kemanusiaan.

http://masamudamasakritis.wordpress.com/2010/06/09/aku-anak-palestina/ 

1 komentar:

Pamulatsih Endang mengatakan...

saat bc posting nie, q ykin inuy pny rs yg sm dg isiny...
syukur gik ade yg care,
nmn mmg dk ckup . qt btuh brjuang tuk bntu mreka. dgn jihad fi sabilillah...
"saat q kn abg q jw trlbt konflik emosi in disscussing about this...

smg Allah beri prtolongan pd qte tuk brbuat, & tuk mreka, saudara qte...

Posting Komentar

comment with love :)

 

Blog Template by YummyLolly.com