SUMBER : BUKU 151KONSPIRASI DUNIA PALING GILA! (karya Afred Suci)
Papua merupakan daerah di bagian paling timur Indonesia dengan kekayaan alam berupa sumber tambang yang melimpah. Namun, dengan potensi sebesar itu, kehidupan lebih dari sebagian masyarakat Papua masih jauh dari kata layak. Amerika sebagai negara Kapitalis Adikuasa berhasil mengikat Indonesia untuk mengikat kontrak karya eksplorasi mineral dihamparan lahan Freeport, Papua selama 30 tahun (1967-1997). Kemudian diperpanjang lagi untuk 20 tahun kedepan. Bayangkan saja, selama 50 tahun kekayaan Papua diserapdiserap habis habisan oleh Amerika sehingga menyisakan kemiskinan dan kerusakan lingkungan parah. Tak heran, jika kemudian muncul gerakan separatis utnutk memerdekakan Papua dari Indonesia.
Forbes Wilson, sempat melakukan kalkulasi tentang tambang di Estberg atau dikenal dengan lokasi tambang freeport sekarang. Terdapat 13 juta ton biji tembaga di permukaan tanah, lalu 14 juta ton dibawah tanah dengan kedalaman 100meter.
Jika untuk menambang 5000 bijih ton tembaga perhari dibutuhkan investasi 60 juta dolar As, dengan rincian biaya produksi 16 sen/pon dan harga jual 35 sen/pon, dalam tempo 3 tahun investasi itu telah balik modal. Lalu, freeport mendapatkan kontrak 50 tahun, maka selama 47 tahun seterusnya freeport hanya menambang keuntungan bersih yang tak terkira besarnya.
Kenyataannya, lebih mencengangkan lagi, sebab angka defisit bijih tembaga itu ternyata jauh lebih besar dari perkiraan kalkulasi Wilson Forbes. Dalam buku A Nealey berjudul Grasberg menyebutkan saat ini Freeport Mc Moran merupakan tambang tembaga yang mempunyai potensi 3 terbesar dunia. Sementara Emasnya menduduki peringkat pertama. Diduga keras teampat yang sama juga terdapat deposit uranium yang harganya berkali-kali lipatvlebih mahal daripada emas dan bijih tembaga. Lahan freeport dipapua adalah surga tambang terbesar di dunia.
Lalu apa yang didapatkan Indonesia ? Ternyata saham pemerintah Indonesia hanya 9,23 %. Sementara Freeport sendiri menguasai 90,77 %. Banyak kritikus bersepakat bahwa apa yang terjadi pada kasus freeport adalah perampokan yang telah berusia puluhan tahun atas restu pemerintah. Indonesian Riset Stusies (IRES) menyatakan Indonesia telah dirugikan dalam penerimaan negara atas PT Freeport Indonesia (PTFI) yang tak tanggung-tanggung jumlahnya.
Dari laporan keuangan yang didapat IRES tahun 2008, penerimaan negara dari pajak royalti selama periode tahun 2004-2008 adalah sebesar US$ 4,41 milayar. Sementara total pendaptan PTFI selama periode tersebut US$17,89 milyar. Sekalipun pengeluaran biaya opersai dan pajak yang dikeluarjan PTFI diasumsikan sebesar 50% dari total pendaptan, PTFI masih untung US$ 8,94 miliar.
Karenanya menurut direktur IRES Marwan Batubara, "kesenjangan penerimaan yang merugikan Indonesia ini harus segera diubah dan caranya adalah dengan melaukan kembali negosiasi kontrak karya dan kepemilikan saham PTFI oleh BUMN
Papua merupakan daerah di bagian paling timur Indonesia dengan kekayaan alam berupa sumber tambang yang melimpah. Namun, dengan potensi sebesar itu, kehidupan lebih dari sebagian masyarakat Papua masih jauh dari kata layak. Amerika sebagai negara Kapitalis Adikuasa berhasil mengikat Indonesia untuk mengikat kontrak karya eksplorasi mineral dihamparan lahan Freeport, Papua selama 30 tahun (1967-1997). Kemudian diperpanjang lagi untuk 20 tahun kedepan. Bayangkan saja, selama 50 tahun kekayaan Papua diserapdiserap habis habisan oleh Amerika sehingga menyisakan kemiskinan dan kerusakan lingkungan parah. Tak heran, jika kemudian muncul gerakan separatis utnutk memerdekakan Papua dari Indonesia.
Forbes Wilson, sempat melakukan kalkulasi tentang tambang di Estberg atau dikenal dengan lokasi tambang freeport sekarang. Terdapat 13 juta ton biji tembaga di permukaan tanah, lalu 14 juta ton dibawah tanah dengan kedalaman 100meter.
Jika untuk menambang 5000 bijih ton tembaga perhari dibutuhkan investasi 60 juta dolar As, dengan rincian biaya produksi 16 sen/pon dan harga jual 35 sen/pon, dalam tempo 3 tahun investasi itu telah balik modal. Lalu, freeport mendapatkan kontrak 50 tahun, maka selama 47 tahun seterusnya freeport hanya menambang keuntungan bersih yang tak terkira besarnya.
Kenyataannya, lebih mencengangkan lagi, sebab angka defisit bijih tembaga itu ternyata jauh lebih besar dari perkiraan kalkulasi Wilson Forbes. Dalam buku A Nealey berjudul Grasberg menyebutkan saat ini Freeport Mc Moran merupakan tambang tembaga yang mempunyai potensi 3 terbesar dunia. Sementara Emasnya menduduki peringkat pertama. Diduga keras teampat yang sama juga terdapat deposit uranium yang harganya berkali-kali lipatvlebih mahal daripada emas dan bijih tembaga. Lahan freeport dipapua adalah surga tambang terbesar di dunia.
Lalu apa yang didapatkan Indonesia ? Ternyata saham pemerintah Indonesia hanya 9,23 %. Sementara Freeport sendiri menguasai 90,77 %. Banyak kritikus bersepakat bahwa apa yang terjadi pada kasus freeport adalah perampokan yang telah berusia puluhan tahun atas restu pemerintah. Indonesian Riset Stusies (IRES) menyatakan Indonesia telah dirugikan dalam penerimaan negara atas PT Freeport Indonesia (PTFI) yang tak tanggung-tanggung jumlahnya.
Dari laporan keuangan yang didapat IRES tahun 2008, penerimaan negara dari pajak royalti selama periode tahun 2004-2008 adalah sebesar US$ 4,41 milayar. Sementara total pendaptan PTFI selama periode tersebut US$17,89 milyar. Sekalipun pengeluaran biaya opersai dan pajak yang dikeluarjan PTFI diasumsikan sebesar 50% dari total pendaptan, PTFI masih untung US$ 8,94 miliar.
Karenanya menurut direktur IRES Marwan Batubara, "kesenjangan penerimaan yang merugikan Indonesia ini harus segera diubah dan caranya adalah dengan melaukan kembali negosiasi kontrak karya dan kepemilikan saham PTFI oleh BUMN



0 komentar:
Posting Komentar
comment with love :)