Tulisan ini sengaja di copas dari web indonesiamengglobal.com, siapa tau aja suatu saat dibutuhin..
Tips Berburu Beasiswa
Tulisan ini berkisah tentang pengalaman berburu beasiswa.
Saya yakin, cerita tentang pengalaman mendaftar beasiswa di Indonesia
untuk ke luar negeri sudah banyak, misalnya disini
http://motivasibeasiswa.org/2011/01/tutik-rachmawati-tips-berburu-beasiswa/ atau
http://myspiritmap.blogspot.com/2010/04/tips-memulai-berburu-beasiswa.html.
Pada catatan ini, saya ingin membagi strategi berburu beasiswa yang
lain, di mana pola ini berlaku bagi beasiswa ke luar negeri (bersaing
dengan sesama WNI), maupun beasiswa yang diburu ketika kita di luar
negeri (saingannya mahasiswa se-penjuru dunia). Yang ingin saya
garisbawahi, pintar dengan Indeks Prestasi tinggi tentu saja menjadi
prasyarat pendaftaran beasiswa, misalnya IPK minimal 3.00 skala 4.00,
tetapi IP tinggi dan afiliasi dengan universitas ternama tidaklah cukup.
Banyak faktor lain yang berperan dalam keberhasilan menembus seleksi
beasiswa di atas, diantaranya:
1. Kelengkapan Dokumen
This is a must. Kalau dokumen tidak lengkap dan tidak mematuhi batas
akhir pendaftaran, lupakan saja poin-poin berikut yang akan saya
paparkan. Karena dokumen yang tidak lengkap akan langsung masuk tong
sampah. Plung!
2. Rencana Penelitian
Setiap pemberi beasiswa mempunyai mission statement khusus tentang
organisasinya, oleh karena itu perhatikan baik-baik apakah rencana
penelitian kita selaras dengan misi organisasi mereka. Jikapun tidak
sama persis, setidaknya carilah irisan (intersection) topic yang bisa
memberikan kontribusi pada organisasi tersebut. Oleh karena itu, jangan
lelah untuk mengubah bentuk atau mendesain ulang rencana penelitian.
Tokh rencana penelitian akan selalu berubah-ubah tergantung pembimbing
akademik kita.
Cara paling mudah untuk menyesuaikan rencana penelitian adalah dengan
membaca baik-baik profil organisasi dan tujuan diberikannya beasiswa.
Selain itu, perhatikan baik-baik profil penerima beasiswa tahun-tahun
sebelumnya. Informasi ini biasanya mudah didapatkan di website
penyelenggara beasiswa.
3. Rekomendasi
Suatu kali, saya pernah menghabiskan waktu seharian dengan seorang
professor yang kebetulan menjadi tim seleksi Fulbright di Washington DC.
Beliau merekrut professor Amerika yang akan dikirimkan ke negara lain.
Bagi tim beliau, setelah kelengkapan dokumen, hal berikutnya yang mereka
periksa adalah surat rekomendasi: bukan cuma siapa yang menulis
rekomendasi, tetapi apa yang mereka tulis disitu, walaupun si penulis
rekomendasi bukan orang ternama.
Pesan beliau: Jangan terjebak pada surat rekomendasi normative dalam
satu halaman, seperti “Si A adalah mahasiswa pintar dan saya
rekomendasikan blah..blah..blah..”. Sebaiknya, surat rekomendasi berisi
detail, misalnya:
Si X adalah salah satu mahasiswa saya yang paling potensial Dia
mengambil kelas saya tentang..blah..blah..dan aktif berpartisipasi dalam
diskusi, mengumpulkan tugas tepat waktu, dan menulis tugas akhir yang
sangat menarik sehingga saya tidak segan-segan memberinya nilai A.
Disamping itu, X memiliki kualitas kepemimpinan yang menonjol
dibandingkan teman-temannya, hal ini dibuktikan
dengan..blah..blah..blah…
Tentu saja isinya sangat subjektif, karena tergantung si penulis
rekomendasi dan seberapa dekat kita dengan penulis rekomedasi tersebut.
Ingat: surat rekomendasi harus bisa memberikan justifikasi mengapa si
pelamar berhak mendapatkan beasiswa, bukan hanya rekomendasi normative
tanpa “nyawa”. Selain itu, jangan mengulang hal-hal yang sudah
disebutkan dalam CV.
4. Pengalaman profesi
Pengalaman profesi tentu saja mempunyai nilai plus, tetapi tidak
mutlak. Pengalaman kerja membuktikan sisi lain dari kemampuan leadership
pelamar.
5. Pengalaman kerja sukarela
Kerja sukarela kelihatannya sepele, tetapi memegang peranan penting
dalam pemberian beasiswa. Setiap beasiswa yang saya lamar, mereka
mempunyai lembaran khusus tentang pertanyaan: apa yang sudah pernah Anda
lakukan pada masyarakat (terutama perempuan dan anak)? Mentoring
seperti apa yang telah dan sedang anda berikan pada komunitas?
Banyak rekan Amerika saya yang punya IP 4.00 skala 4.00 gugur dalam
pencarian beasiswa karena tidak punya pengalaman ini. Seperti
teman-teman ketahui, rata-rata mahasiswa PhD di Amerika berusia 23
sampai 27 tahunan yang waktunya dihabiskan untuk sekolah sejak lulus S1.
Mereka alpa bahwa kerja sukarela dan membangun komunitas adalah wujud
pengamalan ilmu yang mereka pelajari.
Oleh karena itu, jika teman-teman berniat mendaftar beasiswa di tahun
mendatang, mulailah untuk melakukan kerja sosial dari sekarang. Apakah
itu dengan membantu organisasi yang sudah berdiri atau membuat kegiatan
baru atas inisiatif sendiri. Apalagi jika kegiatan sosial tersebut
selaras dengan rencana penelitian kita.
6. Wawancara
Hampir semua beasiswa melakukan seleksi wawancara, baik itu secara
tatap muka atau melalui telepon. Kunci wawancara sederhana saja: kita
harus menguasai apa yang ingin kita pelajari atau teliti, konsisten
dengan topic tersebut, harus bisa menjelaskan apa guna penelitian
tersebut bagi masyarakat dan negara, dan harus bisa mengatakan secara
percaya diri mengapa Anda layak mendapatkan beasiswa.
Selain itu, hindari membandingkan diri dengan orang lain, misalnya:
kalau orang lain begini, tetapi saya begitu. Sebaiknya berikan
fakta-fakta positif tentang diri Anda yang bisa memperkuat argumen bahwa
Anda adalah yang terbaik.
Sebelum wawancara dimulai, biasanya panel pewawancara memperkenalkan
diri termasuk latar belakang dan bidang keahliannya. Simak baik-baik apa
yang mereka katakan, carilah keterhubungan latar belakang dan
penelitian Anda dengan mereka. Menurut pengalaman, Anda bisa menilai
efektivitas keterhubungan ini di akhir wawancara, karena Anda akan
segera paham siapa diantara panel pewawancara tersebut yang mendukung
dan siapa yang tidak.
7. Hubungi Alumni penerima beasiswa yang Anda lamar (tambahan info dari Ika Nurhayani-Cornell University)
Menghubungi dan mendengarkan pengalaman dari alumni penerima beasiswa
yang Anda lamar akan memberikan insight dan strategi yang bermanfaat,
terutama dalam dos and don’ts.
8. Konferensi dan Publikasi (tambahan info dari Ika Nurhayani-Cornell University)
Apabila Anda mencantumkan daftar publikasi ilmiah dan presentasi di
Konferensi, tentu saja hal tersebut membuat peluang Anda lebih besar
dari kandidat lain. Jika Anda belum pernah melakukan presentasi di
sebuah konferensi, sebaiknya Anda mulai dari sekarang. Carilah
konferensi (di bidang Anda atau yang bersinggungan dengan bidang Anda)
di universitas lokal, nasional, maupun internasional. Konferensi di
tingkat nasional lebih mudah dilakukan karena tidak memakan biaya
terlalu banyak, tetapi banyak juga konferensi regional ASEAN yang
menawarkan subsidi bahkan sponsor penuh (termasuk tiket pesawat dan
hotel) bagi para pembicara/presenter. Coba Anda kunjungi
conferencealert.com sebulan sekali untuk mendapat informasi. Hal yang
sama berlaku bagi publikasi. Mulailah rajin mencari “call for paper”
untuk publikasi atau mulailah menulis dan mengirmkannya ke jurnal
nasional atau internasional.
Sekali lagi, publikasi tidak mutlak menentukan seseorang lolos
mendapat beasiswa atau tidak, tetapi membuat peluang Anda lebih BESAR
dibandingkan kandidat lainnya.
9. Faktor X
Selain hal-hal di atas, ada faktor X yang kelihatannya sepele dan
gombal tetapi bisa menentukan keberhasilan, walaupun tidak masuk akal,
yaitu: keterhubungan acak (random connectedness)
Menurut pengalaman saya ketika mendaftar beasiswa di salah satu sayap
lembaga keuangan dunia di Washington DC, mereka menginginkan kandidat
yang concern pada pendidikan dan kesehatan. Bidang saya tidak secara
langsung berhubungan dengan kedua bidang itu, tetapi saya bisa menemukan
irisan kepentigannya. Selama wawancara, saya tidak yakin akan berhasil,
hanya satu pertanyaan yang membuat saya optimis menjawabnya: “why do
you think you are the best candidate for this scholarship?” Saya bilang
“saya tidak cuma berencana akan mengerjakan ini-itu di Indonesia, tetapi
saya telah membuat impact. Dengan beasiswa ini saya bisa menyelesaikan
S3 saya dan dengan Ph.D degree saya yakin akan membuat impact yang lebih
besar lagi.”
Sebulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa saya mendapatkan special
award untuk beasiswa tersebut. Dalam resepsi penerimaan beasiswa yang
dilakukan di boardroom Bank Dunia selama tiga hari berturut-turut,
seorang panitia seleksi mendekati saya. Seorang perempuan Jepang yang
menikahi pria Amerika yang mempunyai jabatan senior di Bank tersebut.
Dia bilang, “sebetulnya area penelitianmu tidak selaras dengan misi
organisasi, tetapi ada interseksional di bidang pendidikan dan saya
pernah tinggal di Jakarta di tahun-tahun itu, dan banyak orang
menghargai apa yang kamu lakukan. Oleh karena itu, saya mempertahankan
dirimu sekuat tenaga agar menjadi penerima beasiswa.”
Resepsi tersebut dilanjut dengan makan malam yang dibuka oleh Sri
Mulyani Indrawati, mewakili Presdir Bank Dunia yang saat itu sedang ke
luar negeri. Meja makan malam diatur sehingga penerima beasiswa, panitia
seleksi, dan pejabat Bank Dunia berbaur dalam satu meja. Di sebelah
saya duduk seorang perempuan Amerika bersuamikan warga negara Jepang
yang rupanya menjadi pejabat senior di Bank Dunia. Si Jepang bertanya:
“siapa sih SMI di Indonesia?”. Maklumlah, posisi Managing Director
adalah posisi politis, bukan karir. Anyway, yang menarik dari pasangan
ini adalah si istri yang juga mencalonkan saya sebagai salah satu
pemenang beasiswa. Alasannya: “saya dan suami bertemu di Fujionimya, dan
saya lihat di CV kamu, kamu menghabiskan dua tahun belajar bahasa di
sana”.
Halah…. ternyata hal yang paling vital dalam pengambilan keputusan beasiswa saya adalah dua perempuan ini.
Beasiswa pun bisa sangat subyektif!
Faktor X inilah sedikit banyak ditentukan oleh doa dan keberuntungan.
Selamat berburu beasiswa.
Tonawanda, New York
Photo by Dave Herholz via flickr
===========================================
Nuning
Hallett (or Nuning Purwaningrum) is a Ph.D. Candidate in Global Gender
Studies at State University of New York at Buffalo. She received
Fulbright scholarship, University at Buffalo Presidential Fellowship,
and Margaret McNamara Memorial Funds for her Ph.D. program. Her main
research focuses on mixed-nationality marriages, migration, virtual
activism among Indonesian women migrants and citizenship. Her academic
interests stemmed from her advocacy and intervention works for
Indonesian women in transnational marriage for 12 years. She is the
initiator of limited-dual citizenship for children, an idea that was
adopted in the newly amended Indonesian Citizenship laws 2006. While
completing her Ph.D. degree, she is managing “Komunitas Kawin Campur”, a
network of 4,000 Indonesian marriage migrants living all over the world
and serving as one of coordinators for petition of Dual Citizenship for
Indonesian Diaspora, which was submitted in CID 2012 in Los Angeles.