Wanita impianmu tampak sangat cantik dalam gaun putih pengantinnya, tersenyum anggun, persis putri yang dipinang pangeran sempurna. Sayang, bukan kau pangeran yang membawa mawar putih dan menyematkan cincin di jari manisnya. Kau terhenyuh dalam kungkungan rasa tak terlafas padanya. Cintamu yang diam, sia-sia saja. Menjadi luka dalam rona jingga pernikahannya. Kau katakan : Cintamu hanya mampu kau ungkap dalam sastra, Sampai ketika rambutmu mulai memutih, kau tetap saja seperti itu.
Mungkin kau wujud Habibi sang pecinta Ainun masa kini. Tetapi berbeda, Ainun yang kau tunggu semu, kau hanya mampu menatap punggungnya yang beriringan dengan entah siapa. Selalu begitu. Menampaknya dari belakang adalah kebiasaanmu. Ketika kau larut dalam sastra di meja kayu kecilmu, aku masih menatap berharap dibelakangmu. Tetapi aku mencintaimu dalam runut waktu; retak hati yang membeku. Tak peduli seperti apa gila kau mencintainya. Ake lebih menggilaimu. Itulah kesamaan kita. Ya, Kau dan aku. Menatap cinta yang bisu dalam diam yang syahdu. Menunggu dawai cinta kau dan aku di petik oleh bulir bulir penantian yang beku. Dawai sumbang, yang bahkan tak kan bersyair merdu. Karenanya tak ada yang akan mulai memetik dawai itu. Tidak kau, Tidak pula aku, karena aku selalu tau, sentra petikanmu selalu dia, gadis bergaun putih yang menebar senyum cinta pada takdir cintanya pagi ini. Tahukah? aku mengagumimu dalam setiap kepingan waktu. Dengan sederhana saja, seperti hujan mengecup kehausan bumi pada hadirnya pagi ini. Sederhana saja, seperti setiap jarum jam detik mengiringi putaran menit. Tak menyesal, Meski aku sama saja dengan mu. Berharap yang tak mesti diharap. Berharap cinta yang ternyata cuma kau tabur untuknya dalam sastra. Tak pernah nyata.



0 komentar:
Posting Komentar
comment with love :)